Ngopi & Hukum

Kopi Tiga Gelas Masih di Kantong Hasbi Abdullah, Ikut Sidang PBB Pun Begitu

Sabtu, 28 April 2018 19:16
  • Kopi Tiga Gelas Masih di Kantong Hasbi Abdullah, Ikut Sidang PBB Pun Begitu
    Ilham Mangenre/Hukumwatch

    M Hasbi Abdullah (kiri, lingkar merah adalah kopi botolan di saku Hasbi) dan mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hasbi dan Bambang sama-sama pengacara berbendera Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.

  • Kopi Tiga Gelas Masih di Kantong Hasbi Abdullah, Ikut Sidang PBB Pun Begitu
    dok.pribadi

    Hasbi Abdullah di Tanah Suci

  • Kopi Tiga Gelas Masih di Kantong Hasbi Abdullah, Ikut Sidang PBB Pun Begitu
    dok.pribadi

    Hasbi Abdullah

HukumWatch.com, Makassar – Sejarahnya, kopi sarat maknanya: kekuatan, berenergi tinggi. Lawyer senior Sulsel Hasbi Abdullah membuktikan itu.

Tanpa kopi di sakunya, pertanda hidup "bagai hiu tanpa taring". Hasbi merasa advokat tak bertaring tanpa kopi.

“Tidak tahan saya, apalagi kalau banyak sidang, banyak pikiran, makanya selalu saya kantongi,” kata ketua LBH Makassar 2003-2007 itu kepada HukumWatch, Rabu (25/4/2018).

Saking candunya Hasbi. Kopi seduh di saku, di kantong celana atau saku jas sekalipun, jangan dilarang.

“Oow, bawa ke ruang sidang, taruh di meja sidang, itu biasa,” tutur alumnus Fakultas Hukum UMI Makassar (angkatan 1986). 

Sebotol kopi racikan Hasbi berisi tiga gelas standar tidak penuh, atau seukuran botol air mineral 600 ml. Dengan hitungan gelas standar volume 220 ml.

"Tiap hari rata-rata empat gelas. Kalau pikiran lagi tinggi, ada sidang berat-berat, tinggi juga (di atas empat gelas)," katanya.

Dulunya botol plastik bekas kemasan air mineral yang ia pakai. “Waktu di MK dulu, kamu lihatkan botol plastik, sekarang termos,” Hasbi tertawa menceritakan kesaksian penulis beberapa tahun lalu.

Pada tahun 2005, pria kelahiran Kampung Punnia, Desa Marannu, Kecamatan Mattirobulu, Pinrang 17 Juli 1967 tersebut ke Swiss.

Dia ke negeri laboratorium kopi olahan Nescafe (Nestle & Cafe) sebagai delegasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Delegasi untuk sidang majelis HAM Internasional di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa (United Nations Office at Geneva, UNOG). 


Hasbi Abdullah mewakili Indonesia sebagai delegasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di sidang majelis HAM Internasional di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa (United Nations Office at Geneva, UNOG), Swiss, tahun 2005. Hasbi tampil membacakan oral statement YLBHI/NGO Indonesia.

Di sidang konferensi HAM UNOG, Hasbi tampil membacakan oral statement YLBHI/NGO Indonesia. Juga menyuarakan kasus aktivis HAM Indonesia Munir Said Thalib atau Munir.

“Saya mewakili Indonesia, saya kantongi kopi di situ, iya. Delegasi lain ada yang bertanya, saya bilang ini kopi,” cerita Hasbi. 

Kopi susu masih saja tersaku di celana Hasbi, ketika memenuhi undangan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS), ke New York, tahun 2007.


Hasbi Abdullah ketika memenuhi undangan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS), ke New York, tahun 2007. Undangan studi perbandingan hukum dan demokrasi.

Undangan studi perbandingan sistem hukum dan demokrasi. Advokat publik utusan berbagai negara hadir unjuk gagasan.

Hasbi sebagai delegasi Indonesia butuh ide tajam untuk forum dunia tersebut. Tentunya kopi senjata pamungkas, harus ada.

Sudah lumrah untuk forum internasional di Negeri Paman Sam. Pengamanannya ketat.

Itu sempat membuat Hasbi sedikit galau. Jelas-jelas kopi bukan barang terlarang, Hasbi melek aturan, dunia pun tahu. 

Ketika itu, kopi racikan Hasbi dalam botol plastik disoal petugas, terdeteksi metal detector untuk makanan dan minuman.

“Sempat mereka larang saya bawa masuk, saya bilang ini kopi, tidak bisa saya tanpa kopi, ngotot saya, akhirnya diizinkan,” katanya.

Sejumlah delegasi pun mempertanyakan botol sakti Hasbi di sela forum,”mereka ada yang geleng kepala, ketawa, saya santai saja, saya letakkan di atas meja.”

Bukan kali itu saja, pada 1997, Hasbi ke Kota Davao Pilipina untuk dialog Initiatives for International Dialogue Philippines


Hasbi Abdullah ke Kota Davao Pilipina untuk dialog Initiatives for International Dialogue Philippines, tahun ada 1997. Hajatan bersejarah sebagai Sharing People Power, penggulingan rezim otoriter Marcos.

Hajatan bersejarah sebagai Sharing People Power, penggulingan rezim otoriter Marcos. “Di situ sama, bawa kopi,”

Kebiasaan "ngopi" Hasbi sulit dibendung, kecuali lagi sakit atau Puasa Ramadan.

Sejak remaja berkarib kopi,“Dari masa sekolah, saya juga heran kalau bulan puasa, saya tidak pikirkan kopi. Nanti buka, baru tancap lagi.”

Sehat Ngopi Sepanjang Karir

Sepanjang karir sebagai advokat, ngopi “rukun wajib.”

Paling senang diajak ngopi. Namun, tidak harus di warung kopi.

“Saya yang penting kopi, biar kopi dibeli dipasar. Jadi di tas ada kopi bubuk disimpan mamanya. Kalau habis, ya, saya isi botol,” katanya.

Takaran kopi yang ia sukai,”Terasa kopinya, pahit pekat, boleh kopi susu, tapi tidak terlalu manis.”

Kopi sudah seperti kebutuhan air minum bagi Hasbi.

Cerita kopi adalah cerita yang panjang, malah melampaui jejak karirnya. 

Koordinator Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Region Sulawwai 1998-2002 mengaku tak pernah gangguan kesehatan lantaran kopi.

“Alhamdulillah, sampai sekarang, sehat-sehat saja,” ujarnya.

Dunianya sebagai advokat dan aktivis begitu panjang pula. 

Hasbi mulai tercatat sebagai anggota LBH Makassar pada tahun 1992, aktif hingga 2007. Ia direktur kelima LBH Makassar atau setelah periode Mappinawang.

Inisiator Badan Pengurus Anticorruption Committee (ACC) Sulawesi (1998 - 2011)

Anggota Badan Konsultasi JARI Celebes Raya (2001 - 2007)

Ketua Badan Pengawas FIK ORNOP Sulsel (2003 - 2007)

Ketua Dewan Daerah WALHI Sulsel 2003-2007. Anggota Presidium KIPPda Sulsel 1997 - 2009

Wakil Ketua Ikadin 2010-sekarang. Wakil Ketua Peradi Makassar 2014-sekarang

Koordinator Wilayah Sulawesi "Komite Independen Pemantau Pemungutan Suara (KIPPER) Jajak Pendapat Timur-Timur tahun 1999.

Anggota Koalisi Ornop untuk Advokasi Brunei, Indonesia, Malaysia, Pilipina, Timor Leste The East ASEAN Growth Area (BIMPT-EAGA) 1997-2000.

Kopi Mulanya Arab

Berbagai sumber sejarah dan seperti diuraikan Wikipedia, Bangsa Arab-lah yang menemukan kopi.

Kopi berasal dari bahasa Arab, qahwah, yang berarti kekuatan atau makanan berenergi tinggi.

Qahwah perubahan menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki dan kemudian berubah lagi menjadi koffie dalam bahasa Belanda.

Penggunaan kata koffie diserap ke bahasa Indonesia menjadi kata kopi yang dikenal saat ini.

Era penemuan biji kopi dimulai sekitar tahun 800 SM, pendapat lain mengatakan 850 M.

Pada saat itu, banyak orang di Benua Afrika, terutama bangsa Etiopia, mengonsumsi biji kopi yang dicampurkan dengan lemak hewan dan anggur untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh.

Penemuan kopi sendiri terjadi secara tidak sengaja, ketika penggembala bernama Khalid—seorang Abyssinia—mengamati kawanan kambing gembalaannya yang tetap terjaga bahkan setelah matahari terbenam, setelah memakan sejenis buah beri.

Ia pun mencoba memasak dan memakannya. Kebiasaan ini kemudian terus berkembang dan menyebar ke berbagai negara di Afrika, namun metode penyajiannya masih menggunakan metode konvensional. 

Nanti beberapa ratus tahun kemudian, biji kopi ini dibawa melewati Laut Merah dan tiba di Arab dengan metode penyajian yang lebih maju.

Bangsa Arab yang memiliki peradaban yang lebih maju daripada bangsa Afrika saat itu, tidak hanya memasak biji kopi, tetapi juga direbus untuk diambil sarinya.

Pada abad ke-13, umat Muslim banyak mengonsumsi kopi sebagai minuman penambah energi saat beribadah di malam hari. 

Kepopuleran kopi pun turut meningkat seiring dengan penyebaran agama Islam pada saat itu hingga mencapai daerah Afrika Utara, Mediterania, dan India. (Ilo Mangenre/HukumWatch/Wikipedia/Berbagai sumber)

Editor: Ilham Mangenre
Sumber: HukumWatch

Tags: M Hasbi Abdullah LBH Makassar PBB Amerika Serikat Swiss YLBHI
Baca Juga:
Komentar